----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dilema Pemerintah Pada Perumahan Rakyat Bersubsidi





Perumahan Rakyat Bersubsidi

Dilema Pemerintah Pada Perumahan Rakyat Bersubsidi

Jualsewarumah – Di tahun 2012 ini, industri dan bisnis properti di Indonesia mengalami perkembangan yang paling atraktif di banding pada tahun-tahun sebelumnya. Didukung oleh kestabilan perekonomian nasional, meningkatnya permintaan, dan pembiayaan yang berkembang mendorong sektor properti melesat pesat dengan peningkatan harga hampir di semua segmen. Beberapa pakar memprediksi, tahun 2012 adalah masa dimana properti mengalami booming dan hal ini akan terus berlanjut meskipun kenaikan harga menjelang Pemilu 2014 diperkirakan tak setinggi tahun ini.

Kenaikan harga properti saat ini tidak akan bisa terhindari, hal ini dipicu oleh kenaikan harga pada lahan, material bangunan, dan suplai yang masih terbatas yang tak sebanding dengan tingginya permintaan. Dengan Boomingnya properti di Tanah air menyebabkan kenaikan yang begitu fantastis hal ini semakin memperdalam jurang penyediaan properti bagi masyarakat berpenghasilan menengah bawah. Sedangkan rakyat berpenghasilan rendah yang butuh rumah masih sangat tinggi.

Harga rumah kian tak terjangkau. Kekurangan rumah rakyat yang diprediksi mencapai 15 juta unit belum juga teratasi, bahkan berpotensi meningkat seiring dengan penambahan kebutuhan rumah baru sebanyak 800.000 unit per tahun. Berdasarkan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, pemerintah menargetkan penyediaan rumah sederhana bersubsidi sebanyak 1,35 juta unit atau senilai Rp 72,83 triliun. Target lima tahun itu meliputi 1,34 juta rumah tapak dan 6.500 rumah susun.

Dalam tiga tahun berselang, tahun 2010 hingga awal Desember 2012, realisasi rumah sederhana tapak baru 176.524 unit (19,28 persen) dan rumah susun 139 unit. Tahun 2012, target rumah sebanyak 133.000 unit bahkan hanya terserap 59.112 unit, meliputi 59.107 rumah tapak (44,6 persen) dan 5 rumah susun (1 persen). Penyerapan rumah yang terus menurun justru terjadi pada saat alokasi anggaran pemerintah untuk perumahan rakyat terus meningkat. Tahun 2010, anggaran pemerintah untuk pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah adalah Rp 2,68 triliun, tahun 2011 sebesar Rp 3,57 triliun, dan tahun 2012 sebesar Rp 4,709 triliun.

Paparan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran mengenai kinerja anggaran pemerintah menyebutkan, penyerapan anggaran Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) sebagai salah satu yang terburuk! Rendahnya kinerja Kemenpera dalam melaksanakan amanah perumahan rakyat memunculkan keraguan akan kredibilitas pemerintah.

Tahun 2012 hampir berlalu dan hanya tersisa dua tahun menjelang berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu II dibawah pimpinan SBY. Dibutuhkan lonjakan penyediaan rumah hingga 1.089.686 unit jika pemerintah ingin memenuhi target RPJMN. Sebuah target yang sangat sulit dicapai, mengingat tahun 2013, anggaran Kemenpera diturunkan menjadi Rp 2,7 triliun akibat rendahnya penyerapan anggaran tahun ini. Padahal, target pembangunan rumah sesuai RPJMN tahun 2013 mencapai 350.000 unit.

Kemenpera sendiri sudah mengibarkan bendera putih dengan menyatakan target itu terlalu tinggi dan kemungkinan hanya bisa tercapai 180.000 unit. Kegagalan pemerintah untuk memenuhi hak dasar rakyat akan rumah menjadi bumerang bagi legitimasi pemerintah. Harus ada peta jalan program perumahan rakyat yang lebih bagus dengan sdm yang canggih dalam pelaksanaannya.

Baca juga Persyaratan Mendapat Rumah Bersubsidi



Catatan : Data yang tercantum diatas untuk status keberadaan properti atau harganya, kami tidak menjamin masih valid atau sudah terjual, bisa langsung menghubungi kontak pengiklannya, terimakasih harap maklum.


Tags: , ,

Category: Blog | RSS 2.0 | Give a Comment | trackback
No Comments
Leave a Reply